Berawal dari lahan desa yang terbengkalai, warga Tangga Barito kini menikmati hasil panen cabai yang menghidupkan ekonomi desa.
Di Desa Tangga Barito, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, Gorontalo, sebuah lahan yang sebelumnya hanya terlihat seperti hamparan tanah biasa kini berubah menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat desa.
Melalui program ketahanan pangan yang didukung Dana Desa Tahun Anggaran 2024, warga bersama pemerintah desa berhasil mengembangkan budidaya cabai rawit Ricata F1 di atas lahan desa seluas dua hektare. Program ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, tetapi menjadi bukti bahwa desa mampu bangkit melalui potensi yang dimilikinya sendiri.
Cerita ini bersumber dari para Pendamping Desa yang selama ini terlibat langsung mendampingi masyarakat dan pemerintah desa dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan program.
Menurut para pendamping, Desa Tangga Barito memiliki kondisi alam yang sangat mendukung untuk pertanian. Tanahnya subur, sumber air melimpah, dan masyarakat memiliki kebiasaan mengonsumsi cabai rawit dalam kehidupan sehari-hari. Dari kondisi itulah muncul gagasan untuk menjadikan cabai rawit sebagai komoditas unggulan desa.
Program dimulai melalui musyawarah desa. Pemerintah desa, kelompok tani, BPD, dan Tim Pengelola Kegiatan duduk bersama menentukan langkah terbaik memanfaatkan tanah kas desa yang selama ini belum optimal digunakan.
Dengan anggaran Dana Desa sebesar Rp34,5 juta, warga mulai mengolah lahan, menanam bibit unggul, melakukan pemupukan, hingga merawat tanaman secara gotong royong. Pendamping desa hadir bukan hanya sebagai fasilitator administrasi, tetapi juga menjadi penggerak semangat masyarakat.
Hasilnya mulai terlihat saat panen pertama dilakukan. Dari lahan tersebut, kelompok tani berhasil memanen lebih dari 1 ton cabai rawit dengan nilai penjualan mencapai puluhan juta rupiah.
Namun yang paling penting bukan hanya angka hasil panennya.
Program ini berhasil membuka lapangan kerja bagi warga desa, mengurangi pengangguran, serta membantu masyarakat mendapatkan cabai dengan harga lebih terjangkau. Keuntungan yang diperoleh pun diputar kembali untuk membeli bibit dan memperluas usaha pertanian desa.
Kini, budidaya cabai rawit itu direncanakan berkembang menjadi unit usaha BUMDes.
Kisah dari Tangga Barito membuktikan bahwa Dana Desa akan menjadi sangat berarti ketika dikelola dengan musyawarah, keberanian mencoba, dan pendampingan yang tepat.
Karena sesungguhnya desa tidak kekurangan potensi. Desa hanya membutuhkan ruang untuk tumbuh dan orang-orang yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari tanah kampung sendiri.
Posting Komentar untuk "Dari Lahan Tidur Menjadi Harapan Baru: Kisah Cabai Rawit Desa Tangga Barito"